Prodi PPPD

You are here Kurikulum Metode Pembelajaran Problem Based Learning (PBL)

Metode PBL

Surel Cetak PDF

Metode Pembelajaran Problem Based Learning (PBL)

Pendidikan klinik menerapkan 2 konsep pendidikan yaitu experiential learning dan adult learning. Konsep Experiential learning menekankan pembelajaran berdasarkan pengalaman sebelumnya yang kemudian disesuaikan dengan praktek nyata di lapangan. Pengembangan berikutnya dilakukan melalui diskusi atau refleksi kasus dengan pembimbing, staf atau rekan-rekan mahasiswa. Adult Learning (belajar orang dewasa) mempunyai karakteristik; Lebih mandiri, meskipun pada beberapa situasi boleh memilih untuk tergantung pada pengajar, Pengalaman hidup menjadi sumber pembelajaran yang penting (lebih mudah belajar melalui pengalaman), Kebutuhan belajar tergantung siswa, Belajar lebih berbasis masalah.

Berdasarkan pemaparan konsep dasar pendidikan klinik tersebut di atas, maka metode pembelajaran dalam hal ini adalah kegiatan belajar di klinik yang dianjurkan antara lain: small group discussion (tutorial klinik), bedside teaching, presentasi kasus, jurnal reading, ketrampilan procedural, mini lecture.

a. Tutorial Klinik (Clinical Tutorial)

Tutorial atau diskusi kelompok kecil merupakan salah satu metode pembelajaran yang memerlukan peran aktif dari dokter muda. Dosen pembimbing klinik berperan sebagai tutor yang bertugas untuk membimbing dan mengarahkan diskusi. Sedangkan Kasus pasien nyata yang dijumpai di klinik merupakan topik pemicu diskusi. Langkah-langkah dalam tutorial klinik:

Langkah 1. Mengidentifikasikan permasalahan yang dihadapi pasien dan mengajukan pertanyaan klinis.

Langkah 2. Melakukan brainstorming untuk menganalisis permasalahan yang dihadapi pasien dengan menggunakan prior knowledge.

Langkah 3. Menyusun penjelasan secara skematis dan menentukan learning issues

Langkah 4. Belajar Mandiri untuk memperoleh jawaban learning issue yang telah ditetapkan bersama. Diutamakan menggunakan prinsip evidence based medicine.

Langkah 5. Jabarkan temuan informasi yang anda peroleh saat melakukan belajar mandiri. Sintesakan dan diskusikan dengan sesama anggota kelompok untuk menyusun penjelasan secara menyeluruh dan pemecahan permasalahan.

Kegiatan tutorial klinik ini dilakukan dalam dua sesi; langkah 1-3 dilakukan pada sesi pertama dan langkah 5 dilakukan pada sesi ke 2.

b. Bedside Teaching

Bedside teaching merupakan komponen essensial dari clinical training sudah dilakukan sejak lama. Dalam pendidikan klinis pasien merupakan guru, seperti yang diungkapkan oleh Wiliam Osler 1903: “no teaching without the patient for a text, and the best teaching is often that taught by the patient himself”(Bliss, 1999). Keuntungan dari bedside teaching adalah memberikan kesempatan kepada siswa untuk menggunakan semua pancaindera mereka (pendengaran, penglihatan, penghidu dan peraba) untuk mempelajari pasien dan permasalahannya. Karakteristik inilah yang akan membantu siswa untuk mengingat situasi klinik dalam pembelajaran.

Rangkaian kegiatan bedside teaching merupakan siklus pembelajaran di klinik yang mengacu pada Clinical learning cycle :

1. Tahap Preparation

Beberapa orang beranggapan bahwa tahap preparation (persiapan) merupakan area yang sangat membutuhkan perhatian serius sebelum peserta didik berhadapan langsung dengan pasien. Di program pendidikan profesi dokter (undergraduate programe) tahap persiapan ini dapat diisi dengan pemberian bekal ketrampilan di skills lab.

2. Tahap Briefing

Tahap briefing perlu dilakukan sebelum melihat pasien langsung (clinical interaction), tahap ini merupakan pengorganisasian kegiatan lebih lanjut. Pada tahap ini dibuat perencanaan mengenai apa yang dapat mereka pelajari selama berinteraksi dengan pasien beserta karakteristik penyakitnya.

3. Tahap Clinical Encounter

Pada tahap ini, peserta didik akan berinteraksi langsung dengan pasien. Fase ini memiliki pengaruh paling kuat terhadap pembelajaran karena mereka akan mendapatkan pengalaman yang jelas tentang penyakit dan karakteristiknya.

4. Tahap Debriefing

Tidak semua peserta didik memahami apa yang terjadi pada fase clinical exposure. Debriefing berfungsi untuk mereview apa yang terjadi selama berinteraksi dengan pasien: apa yang dilihat, didengar dan dirasakan? bagaimana data ini diintepretasikan? apa yang dapat dipelajari dari pasien ini? Oleh karenanya peran dari pembimbing klinik sangat diperlukan untuk menyadarkan mereka tentang apa yang sebenarnya terjadi pada pasien berdasarkan hasil temuan pemeriksaan fisik, laboratorium, ekspresi wajah pasien, dll. Tempat pelaksanaan tahap dibrefieng dapat dilakukan jauh dari pasien, terutama untuk mendiskusikan permasalahan pasien lebih rinci.

Pada bedside teaching, dianjurkan untuk menggunakan “five-step micro skills model”. Urutan langkah-langkah tersebut adalah:

1. Get commitment

Pada tahap ini pembimbing klinik berusaha membuat dokter muda mawasdiri terhadap informasi/data pasien yang sudah mereka dapatkan serta bagaimana mengintepretasikan data/informasi tersebut. Cara yang dapat dilakukan adalah meminta dokter muda untuk membacakan status pasien yaitu hasil anamnesis, pemeriksaan fisik dan penunjang yang terdapat dalam medical record. Kemudian pembimbing klinik mengajukan pertanyaan :

“Menurut anda apa yang terjadi pada pasien ini? Dari hasil foto CT- Scan ini kira-kira penyulit apa yang akan muncul?”

“Apa rencana yang akan anda lakukan kepada pasien ini?”

2. Probe for supporting evidence

Tujuan dari langkah ini adalah untuk mengetahui tingkat pemahaman terhadap pengetahuan yang sudah mereka peroleh. Cara untuk mengetahui tingkat pemahaman adalah dengan mengajukan pertanyaan yang bersifat klarifikasi terkait dengan pernyataan yang dikemukakan oleh dokter muda. Dalam hal ini pembimbing klinik menanyakan data-data apa saja yang mendukung pernyataan dokter muda.

3. Reinforce what was done right

Pemberian feedback positif dapat meningkatkan kepercayaan diri dokter muda dalam mengani pasien maupun dalam mengemukakan pendapat.

4. Help Learner identify and give guidance about omissions and errors

Pada langkah ini, pembimbing klinik membantu mahasiswa untuk mengidentifikasi kesalahan yang telah dilakukan oleh dokter muda yaitu dengan menunjukkan kesalahan yang dilakukan oleh dokter muda. Tujuannya adalah supaya kesalahan yang sama tidak terulang kembali. Namun demikian dalam menyampaikan feed back (komentar) sebaiknya tidak terkesan menyalahkan.

5. Teach general rules

Memberitahu dokter muda mengenai apa yang biasanya terjadi terkait dengan kasus (penyakit) yang dialami oleh pasien dapat memberi masukan kepada dokter muda yang masih sedikit memiliki pengalaman klinik. Masukan/ informasi tersebut dapat dijadikan pertimbangan oleh peserta didik dalam mengelola pasien.

c. Cases Presentation (Presentasi Kasus)

Presentasi kasus merupakan kegiatan pembelajaran di klinik yang sering dilakukan di ruang diskusi. Pada kegiatan ini, mahasiswa mempresentasikan kasus pasien yang dijumpai oleh dokter muda selama melakukan kegiatan di poli rawat jalan, UGD maupun rawat inap. Dokter muda membuat catatan status pasien sesuai dengan format catatan medis pasien untuk RS pendidikan. Pada saat melakukan presentasi kasus, Dokter Muda akan dinilai dengan menggunakan form penilaian Case-based Discussion (CbD).

d. Journal Reading

Merupakan salah satu bentuk kegiatan belajar yang menggunakan journal/ artikel penelitian sebagai sumber belajar dan bertujuan untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap perkembangan ilmu pengetahuan terkini. Mahasiswa diharapkan dapat memahami, menganalisis, menjelaskan dan menyimpulkan isi dari journal yang mereka baca serta mempresentasikannya dalam suatu forum pembelajaran. Tahapanya adalah :

1. Mahasiswa mencari minimal 3 judul artikel jurnal penelitian terkini (terbitan 5 tahun terakhir) baik yang dipublikasi secara on-line maupun edisi cetak yang relevan dengan kompetensi dokter umum, kemudian diajukan ke dosen/dokter pembimbing klinik.

2. Dosen/ dokter pembimbing klinik akan memilih 1 judul artikel jurnal yang relevan dengan kompetensi dokter umum dan belum pernah dipresentasikan sebelumnya dalam 1 kelompok rotasi/ kepantiteraan klinik.

3. Mahasiswa mempresentasikan artikel jurnal yang telah dipilih oleh dosen pembimbing klinik dalam bentuk slide power point dan dinilai oleh dosen/dokter pembimbing klinik dengan formulir penilaian jurnal reading.

4. Dosen/ dokter pembimbing klinik menyerahkan formulir penilaian kepada koordinator pendidikan klinik di RS pendidikan setempat.


e. Survei Lapangan

1. Kegiatan survei lapangan dilakukan oleh mahasiswa kepaniteraan Ilmu Kesehatan Masyarakat di Balai Pelatihan Kesehatan, Dinas Kesehatan, serta Pusat Kesehatan Masyarakat.

2. Kegiatan survei lapangan dilakukan dalam rangka mencari data mengenai status kesehatan komunitas, manajemen puskesmas, dan praktek dokter keluarga melalui kuesioner dan lembar observasi lapangan.

3. Kegiatan survei lapangan dilakukan berkelompok, dengan objek pengamatan yang berbeda satu sama lain sesuai dengan kasus masyarakat yang ditemukan

4. Kegiatan yang telah dilakukan dilaporkan dalam bentuk Laporan Kegiatan. Laporan Kegiatan mahasiswa terdiri dari laporan kegiatan kasus di Balai Pelatihan Kesehatan terdiri dari 2 laporan yaitu laporan mengenai status kesehatan komunitas dan laporan mengenai manajemen puskesmas, serta laporan kasus kegiatan di Puskesmas (1 laporan kegiatan praktek dokter keluarga)

5. Untuk diskusi “on the spot”, digunakan Form Case Based Discussion yang dinilai oleh pembimbing di wahana tersebut.

6. Setelah dibuat laporan kegiatan, dipresentasikan dalam bentuk case presentation dan dinilai oleh bagian Ilmu Kesehatan Masyarakat di FK UNISSULA.

7. Masing-masing pembimbing di wahana kepaniteraan masyarakat menyerahkan formulir penilaian kepada koordinator bagian Ilmu Kesehatan Masyarakat di FK UNISSULA, dan oleh kordinator pendidikan bagian Ilmu Kesehatan Masyarakat diserahkan kepada Kordinator Klinik FK UNISSULA.